Kenapa harus kreatif?

Alasan gw memilih SBM ITB daripada sekolah binis di Jakarta yang akhirnya pindah ke BSD adalah karena kurikulumnya semua berbasis kekreatifitas. Awalnya gw kira semua ujiannya sekedar mengarang bebas apa yang ada di dalam pikiran. Bayangin deh, tugas UTS gw bikin blog bro 😀

Ternyata kekreatifitas mempunyai arti lebih dan gw sangat beruntung bisa nyuri ilmu kayak gini buat bekel gw di dunia kejam mendatang. Menurut gw menjadi kreatif sangat membantu kita sebagai individu untuk tetap have fun dan berkelit dari dunia kemonotonan. Well, gw pernah baca “Do what you love and love what you do.” Quotes itu gw hubungin ke kreatifitas. Untuk menyukai pekerjaan apapun, lo harus pinter2 merekayasa otak lo dan meyakinkan diri lo sendiri buat menyukainya, disinilah kreatifitas bermain. Menurut gw menjadi kreatif bisa diartikan sebagai jalan lain untuk mencapai suatu tujuan.

Contohnya si Rowan Atkinson. Kalo lo googling siapa sih nih Rowan Atkinson, beliau terkenal dengan perannya sebagai Mr. Bean. Siapa sih yang ga kenal Mr. Bean? Bagi gw beliau sangat kreatif menjalani kehidupannya sebagai aktor. Walau aslinya beliau adalah orang yang sangat serius bahkan menurut anaknya ‘galak’, beliau harus berakting cupu untuk mengundang tawa penonton. Karena kekreatifitasnya mendalami akting, Mr. Bean tetap diingat sebagai tontonan komedi yang ga ada matinya, padahal seharusnya jika kita melihat manusia asli bertingkah seperti itu alam bawah sadar kita akan dengan sendirinya menyuruh untuk menjauhi orang itu karena beberapa prejudice yang muncul di masyarakat modern. Coba kalo Rowan Atkinson tidak memainkan kreatifitasnya dalam berakting, yang kita lihat adalah orang penyendiri yang super bodoh, tapi berkat beliau Mr. Bean menjadi tokoh kesayangan sebagian orang.

Nah kalo tadi gw berbicara tentang individu, sekarang gw nyoba buat ngulas dikit tentang perusahaan yang kreatif. Sama seperti kebanyakan orang, gw sangat iri dengan kreatifitas Apple. Mereka menemukan cara termudah untuk menguras uang orang lain. Pertama mereka meresearch kemauan pasar dan membuat prototype untuk langsung dijual di pasaran. Sebelom pasar mengenal gadget tsb, Apple dengan cerdiknya menambahkan beberapa fitur atau desain dan melabeli barang tersebut bukan sebagai inovasi dari prototypenya melainkan sebuah produk baru yang benar2 beda dengan barang pertama yang beredar di pasaran. Taktik ini mulai dijalankan Apple setelah sukses dengan gadget Ipodnya (prototype pertama) sampai sekarang Ipad 2 (merupakan perbesaran dan penambahan fitur dari prototypenya). Taktik mereka kurang lebih seperti ini:

Ipod dikeluarkan, Itouch dikembangkan, dan Iphone dikonsepkan

Ipod mengalami penurunan demand, Itouch dikeluarkan, Iphone dikembangkan, Ipad dikonsepkan

Ipod yang mengalami perubahan fitur dikeluarkan dan menambah demand, Itouch mengalami penurunan demand, Iphone dikeluarkan, Ipad dikembangkan, dan memulai rancangan untuk produk inovatif lainnya

Jika diurutkan seperti itu, Apple dengan sukses menjerat pelanggan dan merubah gaya hidupnya menjadi konsumtif karena adanya sedikit gebrakan pada setiap gadget yang dikeluarkan di pasaran. Kekreatifitasan ini yang membuat Apple menjadi perusahaan trilliuner dan membuat gw ngiri dengan kejeniusannya berbisnis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: